Artikel ditulis oleh Julita Pratiwi (@jujulitas) dan Umi Lestari (@michanlestari)

Irwan Tahyar dan Ratna Asmara
Perjumpaan kami dengan Irwan Tahyar, atau yang akrab dipanggil Pak IT, melalui perjalanan yang tak terduga. Hal ini bermula dari Julita Pratiwi dan tim dari Indonesian Cinematographers Society (ICS) dan Lenscope Film yakni Agni Ariatama dan Indriana Oktavia tentang profil sinematografer Indonesia. Ia menemukan nama The Hoan Thiang, nama dari Irwan Tahyar sebelum mengikuti peraturan pemerintah Orde Baru. Keppres No. 240/1967 yang dibuat tepat setelah genosida 1965 menekankan bahwa warga Tionghoa-Indonesia harus mengganti nama menjadi “lebih Indonesia”. Perjumpaan dengan Irwan Tahyar terangkum dalam wawancara terbitan ICS dan Lenscope Film tahun 2025.[1]
Selang beberapa saat setelah itu, kami datang pada 22 November 2024. Kali ini kami berangkat satu tim yang beranggotakan Julita Pratiwi, Umi Lestari, Efi Sri Handayani, dan Ersya Ruswandono. Saat ditemui di kediamannya di area Jakarta Barat, Pak IT telah menginjak usia 93 tahun. Ia tampak begitu hangat dan antusias bercerita dengan kami. Ia yang sebelumnya santai duduk di sofa, mencoba duduk tegak saat hendak bercerita. Pak IT menceritakan banyak hal berdasarkan ingatannya yang masih baik untuk melihat kembali situasi umum perfilman Indonesia kala itu.
Dari pertemuan tersebut, kami mengetahui bahwa Pak IT berkolega dengan Ratna Asmara. Pada awal tahun 1950-an, Pat IT dan Ratna bekerja di perusahaan film, Djakarta Films. Perusahaan ini tak lain milik The Theng Chun atau Idris Tahyar, ayah Irwan. The Teng Chun sendiri merupakan pionir studio film di Indonesia yang memulai karir di tahun 1930-an dengan pembuatan Java Industrial Film. Ia-lah produser untuk film yang dibintangi Ratna Asmara seperti Kartinah (1940) dan Ratna Moetoe Manikam (1941). Lalu pada tahun 1954, Irwan Tahyar dan Ratna Asmara berangkat ke Italia untuk belajar pembuatan film di Centro Sperimentale di Cinematografia, sekolah film bergengsi tempat para sineas Neorealisme Italia menjadi alumninya.[2]
Pak IT adalah juru kamera untuk film Dr. Samsi. Film yang disutradarai Ratna Asmara ini merupakan kolaborasi dua perusahaan yakni Djakarta Films dan Asmara Film. Irwan Tahyar dalam wawancara menekankan bahwa ia menggunakan pseudonym Sofyan, meminjam nama pamannya, di kredit titel Dr. Samsi. Pernyataan ini membuat kami bahagia. Sekian lama kami mencari ahli waris Dr. Samsi, berjumpa dengan beragam kegagalan - dari gagal mengetahui kuburan Ratna dan ketinggalan momen untuk mengontak salah satu aktor Dr. Samsi - kami malah berjumpa dengan sinematografer filmnya. Setelah menjalankan penelusuran selama empat tahun ini, kami akhirnya bertemu dengan satu-satunya sosok yang bersinggungan langsung dengan Ratna Asmara dalam hidupnya. Selain Dr. Samsi, Irwan Tahyar juga menjadi juru kamera untuk film Ratna yang lain seperti Musim Bunga di Selabintana.[3]

Irwan Tahyar dan Dr. Samsi
Hal yang paling ingin kami ketahui dari Pak Irwan Tahyar adalah mengetahui sosok Ratna sebagai sutradara. Dengan mengetahui cara kerja pembuatan fllm Dr. Samsi, kami berharap bisa sedikit menggapai sosok Ratna. Hanya saja, ketika kami bertanya, “bagaimana cara Ratna Asmara menyutradarai fllm?” atau “apakah ada treatment tertentu dari sutradara?”, Pak IT, begitu kami memanggilnya, berusaha keras untuk menjawab. Usia senja dan ingatan yang terfragmen membuat kami mencari akal untuk membangkitkan kenangan Pak IT tujuh dekade yang lalu.
Produksi film Dr. Samsi sendiri setidaknya melibatkan tiga rumah produksi. Pertama adalah Asmara Film yang memayungi kerja kreatif Ratna dan Andjar yang saat itu masih bersama. Kedua adalah Djakarta Films yang dibuat oleh The Teng Chun, menyediakan studio. Ketiga adalah Bintang Soerabaja Film Company (nantinya akan ditulis sebagai Bintang Surabaya) yang dipimpin oleh Fred Young yang turut menyediakan alat dan kru. Bintang Surabaya sendiri merupakan perusahaan hasil merger antara Fred Young dan The Teng Chun di tahun 1949.
Pak IT mengingat bahwa Ratna adalah sosok yang baik dan ramah. Ia tidak menceritakan lebih jauh tentang proses kreatif dan bagaimana Ratna sebagai sutradara perempuan menyutradarai Dr. Samsi karena ia lupa. Namun, secara spesifik, Pak IT menyatakan bahwa Dr. Samsi adalah film fiksi pertama di mana ia menjadi juru kamera. Tim Ratna dan pamannya, The Teng Hwi yang bertindak sebagai supervisor, mempercayakan departemen kamera kepadanya.
Tantangan produksi film di tahun 1950-an diceritakan secara rinci oleh Pak IT. Pada masa ketika industri film Indonesia bangkit setelah melewati Perang Revolusi, skema rental untuk produksi film tidak ada. Bahkan untuk praktek seperti pencucian film di laboratorium cuci tidaklah banyak. Beberapa perusahaan seperti Perfini atau Stichting Hiburan Mataram mendapatkan dukungan dari PFN yang saat itu sudah menaturalisasi studio South Pacific Film Corporation (SPFC) di Jatinegara. PFN meminjamkan studio untuk produksi film dan juga laboratorium untuk post-pro. Persari, perusahaan film milik Djamaludin Malik, melihat bahwa ketergantungan pada PFN justru membuat produksi film tidak bisa cepat dan masif karena lamanya daftar antrian. Oleh sebab itu, Persari membawa kru filmnya untuk melakukan joint production sekaligus belajar pembuatan film di LVN Manila.
Berbeda dengan perusahaan film milik Tionghoa-Indonesia. Pak IT menekankan bahwa perusahaan–perusahaan film yang telah berdiri sebelum Indonesia merdeka memiliki semangat untuk mengupayakan peralatan teknis dan membuat laboratorium sederhana sendiri. Semangat ini berlanjut setelah tahun 1950 seperti yang dilakukan oleh Bintang Surabaya. Fred dan The membeli kamera profesional 35mm yang diproduksi oleh perusahaan Andre Debrie dari Perancis. Pak IT menegaskan, “kamera ini beratnya bukan main”. Oleh sebab itu, butuh banyak tenaga ahli untuk bisa memindahkan kamera ini dari satu titik ke titik lain. Karena satu dan lain hal, mereka hanya membeli kamera debrie dengan ball head - tanpa tripod dengan merk yang sama. Mereka menggunakan tripod dari merk lain.
Dari cerita Pak IT, kami juga mengetahui kami juga mengetahui beberapa lokasi pengambilan gambar Dr. Samsi. Pak IT masih ingat bahwa hampir keseluruhan scene interior seperti adegan di rumah sakit, rumah Leo, dan rumah Dr. Samsi dilakukan di studio Bintang Surabaya, yang pada dasarnya adalah rumah keluarga besar The Teng Chun. [4] Sedangkan untuk adegan eksterior dilakukan di area Mangga Besar, Jakarta.

Legasi Irwan Tahyar dalam Sinema Indonesia
Pada periode awal 1950-an, Pak IT adalah sinematografer termuda di industri film Indonesia. Usia baru menginjak 20 tahun saat menjadi juru kamera di Bintang Surabaya. Berdasarkan filmografi, Pak IT mengerjakan 12 film fiksi panjang di bawah perusahaan Bintang Surabaya ataupun di bawah Djakarta Films dari tahun 1950 hingga 1954. Ia menjabat Juru Kamera untuk film Sangkar Emas (1952), Chandra Dewi (1952), Lenggang Djakarta (1953), Kasan (1953), Tudjuh Bidadari (1953), dan Putri Solo (1953). Pada era ini, ia menggunakan pseudonim Sofjan di tiap kredit titel film.
Pak IT bersekolah di Centro Sperimentale di Cinematografia di Roma, Italia, untuk memperdalam studi sinematografi dari tahun 1954 - 1957. Kepergiannya ke Italia didukung oleh beasiswa dari Departemen Pengajaran Pendidikan & Kebudayaan. Setelahnya, Pak IT bekerja di Central Film Laboratory di Perusahaan Film Negara (PFN) sebagai wujud pengabdiannya. [5]CFL sendiri berdiri pada tahun 1959. Pak IT bekerja untuk PFN sampai tahun 1960.
Pada tahun 1962 hingga 1963, ia kembali menjadi juru kamera untuk produksi film Bintang Surabaya. Pak IT memegang divisi kamera untuk film Sebulan di Ibu Kota (1962) dan Perang Dingin (1963)Sebulan di Ibu Kota (1962) dan Perang Dingin (1963), dua produksi terakhir sebelum Bintang Surabaya ditutup. Lalu pada tahun 1963, ia bekerja dengan perusahaan Fred Young untuk film di Balik Awal (1963).
Tidaklah mudah untuk memproduksi film pada tahun akhir tahun 1950-a hingga 1965. Saat itu Indonesia mengalami krisis ekonomi. Adanya kebijakan sanering, atau pemotongan nilai uang secara paksa untuk mengurangi jumlah uang yang beredar dan mengatasi hiperinflasi, berdampak pada modal produksi film. Bahan baku film seperti film negatif melonjak drastis. Imbasnya adalah banyak perusahaan film anggota Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) yang hendak menutup perusahaannya. Hal ini juga diperburuk dengan tidak sehatnya persaingan film nasional dengan film impor dan tidak adanya kebijakan yang dibuat pemerintah untuk menyehatkan industri film.
Pak IT sempat hiatus selama 11 tahun setelah 1963. Pada masa ini, ia justru membuat laboratorium cuci sederhana di kediamannya. Tidak sedikit mahasiswa film atau pegiat film amatir yang mendatangi laboratorium Pak IT untuk mencuci film. Pak IT menjadi agen yang tutut menampung geliat perkembangan film amatir yang dibuat dalam ukuran kecil yakni 16mm dan 8mm.
Ia kembali ke balik layar pada tahun 1974 lewat remake film Putri Solo (1974) karya Fred Young. Film ini dibuat dalam film berwarna untuk mendulang kesuksesan Putri Solo yang dibuat tahun 1953. Setelahnya, Pak IT menjadi juru kamera untuk film silat Cobra (1977) karya sutradara senior Rempo Urip. Pak IT menceritakan bahwa untuk produksi film Cobra, tim mendatangkan juru silat khusus dari Tiongkok. Film Cobra kerap disangka sebagai film dari aktor kenamaan Bruce Lee karena di kredit titel film untuk pasar internasional, nama Steven Lee sebagai aktor utama ditulis sebagai “Bruce Lei”. Film Cobra mendapatkan pengakuan di mata sinefil, terutama penggemar film B sebagaimana yang bisa dilihat dalam situs Letterbox.[6]
Saat ditanya tentang film yang paling berkesan buat Pak IT, ia langsung menjawab, “CHIPS”. Bagi Pak IT, CHIPS (Cara Hebat Ikut Penanggulangan Masalah Sosial) yang dibintangi oleh Warkop DKI adalah film yang sukses secara komersial. Film CHIPS (1982) diluncurkan di tahun yang sama dengan film Warkop yang lain yakni Setan Kredit (1982). Kedua film ini disutradarai oleh Iksan Lahardi, pembuat film yang memulai karirnya sebagai juru kamera di Golden Arrow pada tahun 1950-an. Kolaborasi antara Pak IT dan Iksan Lahardi kemudian berlanjut di film CHIPS dalam Kejutan (1983), film komedi dengan pelawak seperti Darto Helm dan Qomar untuk mengulang kesuksesan yang sama seperti film CHIPS sebelumnya.
Pada tahun 1986, Pak IT bereuni dengan Nawi Ismail, pembuat film yang memulai karir sebagai pekerja di laboratorium Java Industrial Film (JIF) di tahun 1940 dan editor film Sedap Malam (Ratna Asmara, 1951).[7] Ia menjadi juru kamera untuk film Memble tapi Kece (Nawi Ismail, 1986) yang dibintangi oleh penyanyi dangdut Jaja Mihardja.
Kiprah Pak IT dalam bidang kamera mendapatkan apresiasi saat ia menjadi juru kamera untuk film drama Akibat Kanker Payudara (1987). Sutradara film ini adalah Frank Rorimpandey, sutradara yang berangkat sebagai aktor film di tahun 1966. Pada penghargaan Festival Film Indonesia 1988, film Akibat Kanker Payudara mendapatkan nominasi sebagai Film Terbaik, bersaing dengan film Tjoet Nja’ Dhien (Erros Djarot, 1988). Dalam FFI 1988, Irwan Tahyar mendapatkan nominasi untuk Penata Sinematografi Terbaik.
Mengenang Irwan Tahyar
Irwan Tahyar berpulang pada Sabtu, 3 Januari 2026. Usianya saat berpulang adalah 94 tahun.
Pak IT menjadi sosok juru kamera yang melewati dua periode kekuasaan di Indonesia. Ia tumbuh dengan melihat perjalanan naik turunnya industri film di masa perang yang tak menentu. Setelah Indonesia merdeka, ia terjun langsung ke pembuatan film dan belajar pembuatan film hingga Italia. Ia melakoni kerja di belakang layar mulai dari menjadi fotografer still, asisten hingga juru kamera. Ia tidak hanya menciptakan imaji saat produksi, tetapi juga menjadi pekerja di laboratorium saat pemrosesan film. Kemampuan inilah yang membuatnya berbeda dengan sinematografer sezamannya.
Sinematografer lintas zaman yang membuat film dengan berbagai genre, dari melodrama, silat, hingga komedi ini meninggalkan warisan yang kaya. Tentunya untuk sinefil yang menggemari film dengan bintang warkop DKI, film Setan Kredit dan CHIPS adalah dua film yang terkenang. Sedangkan bagi penonton Dr. Samsi di era kini, kita bisa melihat bagaimana eksplorasi dan akal-akalan teknis menjadikan film karya Ratna Asmara ini semakin kompleks karyanya.
[1] Irwan Tahyar, “Irwan Tahyar: Penata Kamera Lintas Karir Dan Zaman,” interview by Julita Pratiwi et al., n.d., accessed March 29, 2026, https://theics.id/articledetail?id=19.
[2] Umi Lestari et al., Ratna Asmara: Perempuan Di Dua Sisi Kamera (Indonesian Visual Art Archive, 2022).
[3] Sinematek Indonesia, ed., Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926 - 1978 (Yayasan Artis Film dan Sinematek Indonesia, n.d.).
[4] Umi Lestari, Estetika Film Indonesia: Belajar Dari Yang Klasik, Mei 2019, https://umilestari.com/estetika-film-indonesia-belajar-dari-yang-klasik/.
[5] Lihat lebih detail tentang sejarah Perusahaan Film Negara dalam tautan berikut: https://id.wikipedia.org/wiki/Produksi_Film_Negara
[6] Lihat lebih jauh dalam situs berikut: https://letterboxd.com/film/cobra-1977/
[7] Umi Lestari, Biang Kerok Kenikmatan: Nawi Ismail Dalam Sinema Indonesia (CV Footnote Press, 2023).