Tracing Ratna Asmara and Digitizing Dr. Samsi (1952) Story
Ratna Asmara: Perempuan di Dua Sisi Kamera
At the same time, with the support of public funds, we created derivative works to distribute the legacy of Ratna Asmara and her work. This was done by publishing a book, Ratna Asmara: Perempuan di Dua Sisi Kamera (Ratna Asmara: Woman in Two Sides of Camera) (2022), that consists of seven monographs, which are:
Pada saat yang sama, dengan dukungan dana publik, kami menciptakan karya turunan untuk menyebarkan warisan Ratna Asmara dan karyanya. Hal ini dilakukan dengan menerbitkan buku Ratna Asmara: Perempuan di Dua Sisi Kamera (2022) yang terdiri dari tujuh monografi, yaitu:
- Pengantar Kolektif Kelas Liarsip: Merangkai Ratna Asmara dan Kerja di Baliknya - Lisabona Rahman dan Umi Lestari
- Mendalami Pelapukan: Refleksi Kerja Pelestarian dengan Film yang Terlantar dan Terpinggirkan - Lisabona Rahman
- Ratna Asmara - Umi Lestari
- Diari Arsiparis: Proses Reparasi Awal dan Digitisasi film Dr. Samsi - Efi Sri Handayani
- Kode Pelapukan dan Bahasa Keibuan dalam Dr. Samsi - Julita Pratiwi
- Ratna Asmara di Amsterdam: Pengalaman Menonton Dr. Samsi di Eye Filmmuseum - Imelda T. Mandala
- Filmografi Ratna Asmara - Siti Anisah
The book was published by the support of Indonesia Visual Art Archive (IVAA), with the editor Lisistrata Lusandiana. The first release version was distributed to higher education institutions, some archive/ library institutions, film communities and colleagues.
Buku ini diterbitkan atas dukungan Indonesia Visual Art Archive (IVAA), dengan redaksi Lisistrata Lusandiana. Versi rilis pertama didistribusikan ke lembaga pendidikan tinggi, beberapa lembaga arsip/perpustakaan, komunitas film, dan kolega. .
Merangkai Ratna Asmara (2023)
Apart from that, the documentary Merangkai Ratna Asmara (Devising Ratna Asmara) (2023) was released as episode fragments on the Indonesiana TV platform. The documentary shows the journey of research collective Kelas Liarsip on tracing Ratna Asmara - the actor, director, producer, with an effort to save and digitize her film, Dr. Samsi (1952). Then, it was released in a 66–minute feature format and screened in independent art houses, art galleries, cultural centers and film communities. Similar with the screening of Dr. Samsi also accompanied by public discussion. It has been screened Kineforum DKJ, PurpleCode Collective, Galeri Nasional - Jakarta, Kotabaru Heritage Film Festival - Yogyakarta, Lokananta - Surakarta.
Selain itu, film dokumenter Merangkai Ratna Asmara (2023) dirilis sebagai fragmen episode di platform Indonesiana TV. Film dokumenter ini menunjukkan perjalanan kolektif riset Kelas Liarsip dalam menelusuri Ratna Asmara - sang aktris, sutradara, produser, dengan upaya menyelamatkan dan mendigitalisasi filmnya, Dr. Samsi (1952). Kemudian, film ini dirilis dalam format film panjang berdurasi 66 menit dan diputar di bioskop independen, galeri seni, pusat kebudayaan, dan komunitas film. Mirip dengan pemutaran Dr. Samsi yang juga disertai diskusi publik. Film ini telah diputar di Kineforum DKJ, PurpleCode Collective, Galeri Nasional - Jakarta, Festival Film Warisan Kotabaru - Yogyakarta, Lokananta - Surakarta.
The original soundtrack of Merangkai Ratna Asmara, "Suara Puan" written by Arief Fauzan Vibriansyah and M. Cristna Irama and sang by Nesia Ardi could be access through this link.
If you would like to screen and make a discussion surrounding the film, don't hesitate to reach us.
Lagu tema Merangkai Ratna Asmara, "Suara Puan" yang ditulis oleh Arief Fauzan Vibriansyah dan M. Cristna Irama dan dinyanyikan oleh Nesia Ardi dapat diakses melalui tautan ini.
Jika Anda ingin menonton dan mendiskusikan film ini, jangan ragu untuk menghubungi kami.
Behind the Scene of Merangkai Ratna Asmara
Ihsan Fadli (Gaffer)
Alpianai (Sound Recordist and Mixer)